14 Aug

MENYULAP SINGKONG BERNILAI EKONOMIS

By  Mata Madura
(0 votes)

Di tangan Kursidi, tanaman tidak berharga disulapnya menjadi makanan bernilai ekonomis. Lagi-lagi, satu pengusaha UMKM sukses berkat penguatan modal dari BPRS Bhakti Sumekar.

Sekitar 1 kilometer ke arah barat dari Pasar Beringin, berdiri kokoh rumah Kusridi, warga Dusun Daja, Desa Jelbudan, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep. Dengan wajah penuh senyum, pria berusia 40 tahun ini menyambut kedatangan Mata Madura untuk wawancara seputar perjalanan usaha yang ia kembangkan, pada hari Sabtu, 12 September lalu. Edi, begitu ia lebih dikenal masyarakat sekitar, adalah salah seorang pekerja UMKM yang mengangkat buah singkong atau ketela pohon sebagai bahan dasar untuk meningkatkan ekonominya. Di rumahnya, Edi memang tampak memanfaatkan tanaman lokal yang biasa ditanam masyarakat di sawah dan tegalan itu untuk kemudian mengubahnya menjadi barang yang lebih ekonomis. Hal itu dilakukan Edi dengan cara membeli buah tersebut dan memproduknya menjadi kripik singkong mentah lalu menjualnya kepada pengusaha kripik.

Merintis Usaha selepas SMA

Edi bercerita, usaha yang menjadi mata pencahariannya saat ini mulai ia digeluti sejak lulus dari bangku sekolah SMA pada tahun 1991. Pengetahuan tentang potensi ekonomi dari buah singkong diperoleh Edi tanpa diduga. Berawal dari pekerjaannya sebagai sopir yang menawarkan jasa colter hingga ke luar kota membuat Edi mempunyai banyak kenalan di kota-kota besar. Dari kenalan itulah lantas Edi mendapatkan banyak pengetahuan dan semangat membuka usaha sendiri untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Setelah melakukan pertimbangan dan mendengarkan saran dari kolega-koleganya tersebut, akhirnya dipilihlah kripik singkong mentah dengan melakukan komunikasi terlebih dahulu bersama salah satu pabrik di Surabaya.

Sejak awal, Edi mengaku tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan terjun di usaha kripik singkong mentah. Selain karena tidak adanya background keluarga yang menggeluti usaha itu, Edi juga tidak mengetahui kalau buah ketela pohon ternyata dapat dijadikan makanan ringan yang banyak diminati orang. Ia hanya mengenal ketela pohon sebatas bahan utama dari pembuatan tapai dan jeringkeng (makanan tradisional masyarakat Madura, red) yang dimasak masyarakat sebagai pengganti beras dan jagung. Bagi masyarakat Madura masa dulu, buah ketela pohon atau biasa juga disebut dengan nama singkong memang bukanlah tanaman komoditi yang ditanam untuk mendapatkan keuntungan. Singkong tidak dipandang sebagai jenis tanaman komoditi layaknya beras atau jagung. Masyarakat hanya menanam singkong di pinggiran sawah atau diselipkan di antara tanaman-tanaman lain seperti jagung, beras, kedelai, dan kacang ijo.

Kondisi masyarakat yang demikian, pada titik tertentu, diakui Edi cukup membantu terhadap jalannya usaha yang baru ia rintis. Ketidaktahuan masyarakat akan potensi ekonomi dari buah singkong ini membuat persaingan usaha nyaris tidak ada. Hal tersebut memudahkan Edi dalam memborong singkong dari para petani meski di tengah kondisi modal yang sedikit. Para petani merelakan singkongnya untuk dibawa terlebih dahulu dengan harapan nantinya akan memperoleh uang. “Masyarakat sangat senang karena tanamannya ada yang membeli. Waktu itu harga singkong Rp 150 perkilo. Jadi meski tidak dibayar, mereka mempersilahkan untuk dibawa dengan modal kepercayaan,” tutur Edi.

Edi mengakui, modal kepercayaan masyarakat adalah kunci dirinya bisa bertahan di dunia usaha. Maka dari itu, ia selalu menjaga kepercayaan tersebut dengan cara tidak melewatkan waktu pembayaran sesuai yang dijanjikan. Pada awal usahanya tersebut, Edi mengirimkan bahan kripik singkong mentah kepada salah satu pabrik di Surabaya sebanyak 1,5 – 2 ton tiap minggu dengan menggunakan mobil pick up. Dalam memenuhi kouta pengiriman tersebut, Edi cukup mengandalkan petani singkong yang ada di sekitar rumahnya dan desa tetangga. Namun, ketika kualitas kripik mentahnya kian mendapat apresiasi dari pabrik tempat ia memasok hasil produksi, ia mulai merambah ke petani singkong yang berada di kecamatan lain.

Menikah dan Membuka Lapangan Kerja

Usaha kripik singkong mentah yang digeluti Edi ternyata tidak hanya menjadi lumbung penghasilan, namun juga membuka jalan baginya dalam memperoleh pendamping hati. Pria kelahiran Sumenep, 18 Agustus 1975 ini membina keluarga pada tahun 2007 dengan dara cantik bernama Ririn Ristiawati yang tidak lain adalah mitra kerjanya di Surabaya. Dari pernikahannya tersebut dia dikaruniai dua orang putri bernama Yanar Reka Susiswanto dan Raisa Hidayatul Mufidah.

Sejak membina keluarga dan mendapat dukungan dari sang istri, Edi semakin serius menggarap usaha kripik singkong mentahnya. Kouta pesanan dari pabrik pun terus bertambah hingga 4 kwintal. Dengan jumlah yang banyak tersebut, Edi mengambil beberapa langkah agar dapat mengirimkan barang seminggu sekali sesuai dengan permintaan. Untuk menyiasati kondisi itu, langkah pertama yang ia ambil adalah membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar yang tidak mempunyai penghasilan. Tetangga sekitar yang tidak punya pekerjaan ia rekrut untuk membantunya memperbanyak produksi. Pada awa-awal, masyarakat yang membantu hanya satu dua orang, namun terus bertambah hingga akhirnya mencapai 12 orang. Masyarakat yang bekerja kepada Edi rata-rata seorang perempuan, yakni para ibu rumah tangga yang bosan berdiam diri di rumah atau perempuan janda yang ingin mempunyai penghasilan.

Edi merasa senang karena usaha yang dikembangkannya tersebut dapat membantu masyarakat dalam menemukan pekerjaan dan mengatasi pengangguran di desanya. Karena membuat kripik singkong mentah perlu keahlian khusus terutama saat pemotongan agar tidak mengenai tangan, Edi membagi karyawannya dalam dua kategori. Pertama adalah karyawan yang bertugas membantunya dalam proses pembuatan kripik. Pada karyawan ini, Edi memberikan upah sebesar Rp 30ribu perharinya. Kedua, karyawan yang memiliki tugas meletakkan kripik mentah yang sudah jadi ke tempat penjemuran atau sak-sak. Bagi karyawan ini, Edi memberikan upah sebesar Rp 500 untuk tiap sak-sak. Langkah kedua yang diambil adalah membentuk usaha binaan di masyarakat dengan cara mengajak beberapa rumah tangga untuk membuat kripik mentah. Para kelompok binaan tesebut tinggal bekerja karena semua kebutuhan dasar pembuatan kripik singkong mentah telah disiapkan. “Sekarang ada 10 rumah tangga yang bekerja, untuk 1 kwintalnya saya membayar Rp 700ribu,” ungkap Edi.

Peran BPRS Di Tengah Kesulitan Modal

Upaya selanjutnya yang dilakukan Edi adalah mencari singkong dalam jumlah yang banyak. Kebutuhan produksi yang besar membuat Edi harus membeli singkong ke berbagai daerah bahkan hingga ke luar kota, seperti Desa Cempaka, Lenteng, Bantenan Pamekasan, dan Desa Ketapang Sampang. Namun, siapa sangka hal tersebut justru membuatnya kesulitan di tengah kondisi modal yang pas-pasan, ditambah dengan kemajuan dunia usaha yang bertambah pesat tidak seperti ketika pertama kali ia merintis dulu. Banyaknya pengusaha kripik singkong yang bermunculan membuat keberadaan uang sudah sangat menentukan. “Para petani tidak memberikan singkongnya kalau tidak dibayar. Untuk menyiasati itu, saya terpaksa cari pinjaman kepada orang-orang yang ada di desa,” kenang Edi. Meski merasa tidak enak dengan sistem pinjaman di desa karena bunganya yang tinggi, mau tidak mau Edi harus mengambil itu untuk menyelamatkan usahanya. Hingga pada tahun 2005, atas masukan dari seorang teman ia melayangkan proposal ke Bank BPRS untuk mendapat bantuan penguatan modal. “Alhamdulillah, berkat pinjaman modal dari Bank BPRS saya dapat menutupi kebutuhan modal. Meski banyak tawaran dari bank lain, namun saya tetap setia dengan Bank BPRS,” ungkapnya sembari tersenyum. Saat ini, Edi mengaku rutin mengirim kripik singkong mentah ke pabrik Surabaya 2 kali dalam sebulan sebanyak 4-5 ton menggunakan truk. Selain menjadikan pabrik besar sebagai objek pemasaran, kripik mentah Edi juga dibeli oleh masyarakat dari beberapa daerah meski dalam jumlah yang kecil, seperti Manding, Batang-batang, dan lain-lain. Dari usahanya tersebut, dalam sebulan Edi mengaku mendapat laba sebesar 10-15 juta. “Alhamdulillah usahanya lancar, Mas,” kata Edi bersyukur.

Read 2043 times Last modified on Monday, 15 August 2016 10:39

Twitter

Hubungi Kami

BBS mobile

Untuk Kemudahan nasabah menggunakan layanan kami, kini BPRS Bhakti Sumekar hadir di smartphone android, unduh gratis di Google Playstore

BPRS Bhakti Sumekar