14 Aug

KREASI EKONOMI SERAT LANAS

By  Mata Madura
(0 votes)

Berkat Penguatan Modal dari Bank BPRS Bhakti Sumekar Sumenep, hasil kreasi Serat Lanas dari Desa Ellak Laok, Kecamatan Lenteng, dapat mengangkat derajat ekonomi Hayat dan warga sekitar. Hayat ngaku plong setelah semua hutang lunas sejak menggeluti binis baru yang bermitra dengan BPRS.

Di dataran tinggi Desa Ellak Laok, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, terlihat seorang lelaki setengah baya sedang menyerat daun pohon Lanas atau Mastole (Madura, red) di belakang rumahnya. Di bawah rindang pohon asam yang melindunginya dari terik matahari, dia menyerat satu persatu daun Lanas yang baru dipetik dari pohon yang tumbuh liar di sekitar rumahnya. Lelaki itu, Haji Abd Rahem namanya, menyunggingkan senyum ketika Mata Sumenep datang menghampiri ditemani Hayat (43), seorang pengrajin dan pengepul Serat Lanas disana. Wajah Haji Abd Rahem tampak lelah memperlihatkan perjuangan hidup yang tidak mudah. Di sekelilingnya menumpuk Serat Lanas yang telah dikerjakannya. Dengan menggunakan alat penyerat tradisional karya warga setempat, ia mengaku dalam satu hari dapat menghasilkan 5 hingga 10 kg Serat Lanas. Hasil seratannya tersebut kemudian dijual kepada Hayat yang mengembangkan usaha sebagai pengepul.

Dalam usaha yang dirintis sejak tahun 2007 itu, Hayat mengaku memang membeli Serat Lanas dari masyarakat seharga 17 ribu per kg. “Sesuai harga di pasaran,” katanya. Sebelumnya, seperti kebanyakan masyarakat desanya, ia pun hanya seorang penyerat yang melanjutkan pekerjaan turun-temurun dari kakek moyang. Hal tersebut, kata Hayat, karena pohon Lanas memang banyak tumbuh di Desa Ellak Laok yang merupakan daerah perbukitan dan tanah berbatu. Alhasil, keberadaan pohon tersebut kemudian dimanfaatkan masyarakat masa dulu sebagai potensi ekonomi karena seratnya yang terbukti kuat dan tahan lama.

“Sejak dulu Serat Lanas ini dijadikan bahan pokok pembuatan tali. Bahkan tali pada kapal-kapal besar juga menggunakan ini,” tutur Hayat.

Jatuh Bangun Usaha

Hayat bercerita, perjalanan usahanya di bidang Serat Lanas ini tidaklah mudah. Bahkan bisa dibilang tertatih-tatih. Awalnya, ia menjadi pengrajin Serat Lanas sejak tahun 2004. Dengan memanfaatkan 3 tegal tanah peninggalan orang tuanya, ia bersama sang istri, Halimah (33), mencari sumber penghasilan keluarga dari daun Lanas. Dari 3 bidang tanah tersebut ia dapat menghasilkan serat hingga 3 kwintal dan hasil penjualannya dapat sedikit memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut ia tekuni dengan sabar selama 4 tahun.

Namun pada tahun 2007, keluarga Hayat mendapat musibah yang membuat ia berpikir harus berubah dan bertindak nekat untuk mengembangkan usahanya. Musibah tersebut adalah putri semata wayangnya mengidap penyakit demam hingga harus di opname di rumah sakit selama satu minggu, dan di waktu bersamaan dua ekor sapi di rumahnya hilang dibawa maling. Dua musibah tersebut datang secara beruntun dan memukul telak kehidupan keluarga Hayat.

“Waktu itu saya sangat terpukul, bahkan istri saya sampai teriak-teriak di rumah sakit,” terang ayah dari Amelia Habibah (14) ini, terkenang. Sepulang dari rumah sakit, kondisi ekonomi keluarga otomatis tambah kacau karena terlilit banyak hutang. Sapi yang awalnya akan dijual untuk menutupi hutang selama di rumah sakit juga sudah sirna. Bahkan Hayat dan Halimah sempat berpikir untuk bekerja di luar negeri sebagai TKI. Namun di tengah keputusasaan itulah Hayat masih dapat berpikir jernih sehingga diberikan keberanian untuk memanfaatkan potensi ekonomi yang ada di desa sendiri.

Akhirnya, dengan bermodal uang 25 ribu, Hayat dan Halimah mengambil inisiatif untuk mengembangkan usaha Serat Lanasnya dengan cara membeli Serat Lanas dari tetangga. Modal sebesar 25 ribu memang sangat sedikit untuk dijadikan modal usaha, namun Hayat bersyukur karena sebagian tetangganya malah dengan suka rela memberikan hasil Serat Lanasnya meski tidak dibayar di muka. “Alhamdulillah, ternyata Allah memberikan jalan sehingga saya tidak perlu kerja ke luar negeri meski tidak mudah,” tutur Hayat.

Pada awal usahanya itu, Hayat masih menjual serat daun tersebut ke pasar. Selain dalam bentuk serat asli, ia juga menjual dalam bentuk tali. Lalu seiring berjalannya waktu, usahanya tersebut terus berkembang. Apalagi setelah ada pelanggan tetap dari Kabupaten Pamekasan. “Orang Pamekasan datang kesini pada tahun 2009 diantar salah satu teman saya. Sejak saat itu dia hampir setiap bulan pesan Serat Lanas 15-20 kwintal,” ujar Hayat.

Banyaknya pesanan dan kepercayaan masyarakat terhadap usahanya tidak lantas membuat Hayat senang. Ketersediaan modal yang kurang membuat Hayat harus keliling mencari hutangan. Hayat bercerita, dirinya harus meminjam emas milik saudaranya untuk digadaikan. Kendati demikian, kekuatan modal yang dibutuhkan masih terbilang kurang. Dalam sebulan, kadang sampai 5 kali dirinya harus menggadaikan emas hasil pinjaman. Barulah pada tahun 2013 lalu, Hayat mampu bernafas lega. Sebabnya ia telah menjalin kerjasama dengan Bank BPRS Bhakti Sumekar Cabang Lenteng di bidang penguatan modal. Dengan begitu, Hayat mengaku tidak kebingungan lagi terhadap persoalan permodalan. Ia tinggal mengajukan pinjaman modal sesuai yang dibutuhkan. “Justru itu saya merasa sangat bersyukur dengan adanya program penguatan modal dari Bank BPRS, karena sejak saat itu saya bisa fokus terhadap pengembangan usaha,” kata Hayat, tampak bersemangat.

Saat ini, pelanggan Hayat sudah meluas. Tidak hanya di daerah Madura dan pengusaha menengah, salah satu pabrik besar di Kota Surabaya pun turut memesan Serat Lanas dari usahanya itu. Bahkan pabrik rokok besar seperti PT HM Sampoerna yang ada di Madura juga memesan tali dari Serat Lanas produksinya. “Tiap bulan Pabrik dari Surabaya itu memesan serat lanas 1-1,8 ton. Alhamdulillah saat ini usaha saya semakin lancar,” ucap Hayat bersyukur. Untuk memenuhi jumlah pesanan tersebut, selain membeli serat lanas dari para tetangga, Hayat juga mempekerjakan 6 orang untuk menyerat daun Lanas dari tiga petak tanahnya.

Enam orang tersebut dibagi pekerjaannya dengan upah yang berbeda pula. Yakni tiga orang yang bertugas membersihkan duri di daun lanas diupahnya 25 ribu perhari, sementara tiga orang yang bertugas menyerat daun yang sudah dibersihkan diberi upah 50 ribu perhari. Produk serat dan tali dari pohon Lanas hasil kreasi UMKM Desa Ellak Laok ini dijual dengan harga beragam. Untuk Serat Lanas dijual dengan harga 20 ribu/kg, sedangkan untuk jenis tali dibandrol 16 ribu/kodi. Dari penjualan tersebut, Hayat mengaku mendapatkan laba sebesar 15-20 juta tiap bulan. “Alhamdulillah melalui usaha ini hutang saya sudah lunas dan semua emas yang dulu digadaikan sudah ditebus,” syukurnya.

Mengenal Lebih Jauh Pohon Lanas

Tidak sulit untuk menemukan pohon Lanas di sekitar rumah warga Sumenep. Tanaman penghasil serat bernilai ekonomi tinggi tersebut memang banyak tumbuh di Sumenep terutama di kawasan berbatu. Bahkan menurut Hayat, menyerat daun lanas mamang menjadi pekerjaan umum masyarakat Desa Ellak Laok. Hingg kini, tercatat ada tiga dusun yang memanfaatkan pohon liar tersebut untuk dijadikan sumber penghasilan. Ketiga dusun tersebut yakni Dusun Darusa Barat, Darusa Timur, dan Toguluk Bawah.

Hayat menjelaskan, pohon Lanas yang banyak tumbuh di desanya bukan hasil budidaya serius oleh masyarakat, akan tetapi justru tumbuh liar di sekitar bukit berbatu yang terdapat di daerahnya. Baru pada perkembangannya, pohon bernilai ekonomis itu mulai ditanam. Itupun tak lebih dari 10-15 benih. Sebab tanpa harus dipupuk maupun disiram, kata Hayat, benih-benih tersebut akan beranak-pinak dengan sendirinya. Dan yang membuat semakin mudah, proses anak-pinak tidak akan pernah membuat pohon induk mati seperti pada pohon pisang, sehingga tak memerlukan upaya budidaya.

Selain itu, pohon yang mengandung serat kuat tersebut bagi masyarakat Madura tidak hanya memiliki satu nama. Kendati dikenal sebagai pohon Lanas di Desa Ellak Laok, Kecamatan Lenteng, Sumenep, ada pula yang menyebutnya dengan pohon Mastoleh. Keberagaman nama ini pun cukup membuat sulit pencarian nama ilmiah dari pohon tersebut. Terlebih Hayat maupun masyarakat pengrajin lainnya tak juga tahu apa istilah popularnya. Namun ketika Mata Sumenep mencoba mencari di beberapa literatur dengan mencocokkan ciri daun dan tabiatnya, daun pohon Lanas sama dengan ciri daun pohon Sisal atau biasa disebut Agave Sisalana Perrine secara ilmiah. Sisal (Agave Sisalana Perrine) merupakan tanaman penghasil serat dari daunnya setelah melalui proses penyeratan. Tanaman ini termasuk dalam keluarga Agavaceae berasal dari meksiko dan dibawa ke Indonesia pada tahun 1913.

Ciri - ciri tanaman Sisal yakni warna daun hijau, tepi daun berduri, berjarak agak renggang dan tahan kering serta produksi serat tinggi. Dalam dunia industri, Sisal merupakan tanaman penghasil serat alam yang banyak diminati pengusaha. Karakternya yang kuat dan tahan lama dan tahan air laut membuat Serat Sisal kerap digunakan sebagai bahan pokok industri. Seperti industri kapal laut, keset, sikat, sapu, bahkan springbad. Jika prediksi Mata Sumenep ini benar, maka sangat disayangkan jika potensi ekonomi yang terdapat dalam pohon Lanas ini tidak dimanfaatkan.

Sedikit masyarakat yang mengetahui potensi pohon ini, bahkan oleh Hayat sendiri selaku orang yang mengembangkam seratnya. Menurut pengakuan Hayat, dirinya tahu mengetahui tentang serat Lanas karena menjadi usaha nenek moyang. Pihaknya tidak pernah mengikuti pelatihan yang dapat menambah pengetahuannya tentang serat Lanas. “Saya pernah bertanya kepada pelanggan yang dari Surabaya. Namun dia tidak mau menjelaskan dan menjawab bahwa itu rahasia perusahaan,” kata Hayat.

 

Read 753 times Last modified on Monday, 15 August 2016 11:12

Twitter

Hubungi Kami

BBS mobile

Untuk Kemudahan nasabah dalam menggunakan layanan kami, kini BPRS Bhakti Sumekar hadir di smartphone android, unduh gratis di Google Playstore

BPRS Bhakti Sumekar