14 Aug

MENDONGKRAK EKONOMI KELUARGA

By  Mata Madura
(0 votes)

Membantu usaha orang tua pada akhirnya mengantarkan Imam memiliki usaha mandiri, meski tetap di bidang yang sama. Ada masa sulit dimana modal menjadi kendala. Hingga berkenalan dengan BPRS memberikan solusi dalam mengatasi problem usahanya.

Lelaki itu ternyata masih muda. Siluet senyum Tersembul dari wajahnya saat Mata Sumenep berkunjung ke kediamannya di Dusun Daja Lorong, Desa Batudinding, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep, pada hari Minggu, pekan pertama September lalu. Namun siapa sangka, jika di balik wajah dan umurnya yang terbilang muda, ia adalah seorang pelaku UMKM sukses yang mengembangkan usaha di bidang perlengkapan alat-alat dapur seperti Sobluk (bahasa Madura = sejenis Panci), Cetteng (bahasa Madura = Alat Pencuci Beras), dan Lengser (bahasa Madura = Nampan Oven). Produk yang dihasilkan oleh lelaki ini memang sudah mendapat tempat di hati para konsumen. Bahkan dari saking terkenalnya, ia mendapat julukan Sobluk pula, seperti nama produknya itu, di belakang nama panggilannya.

Dari Membantu Orang Tua

Lelaki ini bernama asli Imam Wahyudi. Ia lahir di Sumenep tepatnya di Desa Batang-Batang Laok, Kecamatan Batang-Batang pada tanggal 10 Mei 1982. Imam mengaku berkenalan dengan usaha yang menggunakan alumunium sebagai bahan baku itu sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama dan mendapat bimbingan langsung dari orang tua yang memang menekuni usaha tersebut. “Sebenarnya ini adalah usaha orang tua, Mas. Jadi sejak SMP saya sudah membantu bapak bikin sobluk dan berbagai produk yang lain,” tutur Imam.

Imam menambahkan, di desa tempat kelahirannya tersebut usaha di bidang alat-alat dapur memang banyak digeluti masyarakat. Tidak hanya oleh keluarganya, keluarga yang lain, kata Imam, juga menjadi pengrajin usaha yang cukup menjanjikan itu. Sehingga untuk mewadahi para pengrajin yang ada, masyarakat pun membuat kelompok usaha sebagai langkah untuk mengoptimalkan produksi dan penjualan. Dari kelompok itu kemudian tak jarang banyak mendapat pelatihan dan bantuan dari dinas terkait seperti Disperindag, Disnakertrans, Diskoprasi & UMKM, dan lain-lain. Bahkan melalui kelompok tersebut, Imam mengaku pernah melakukan studi banding ke daerah Sidoarjo untuk berbagi dengan kelompok usaha yang sama demi menambah pengetahuan dalam mengembangkan usaha.

Meski waktu itu usia Imam masih terbilang remaja, namun karena kepandaiannya membuat Imam mudah dalam menyerap ilmu dari sang ayah. Sehingga dalam waktu yang tidak lama, ia berubah dari remaja biasa menjadi remaja produktif dan membanggakan bagi kedua orang tua. Sejak saat itulah, Imam muda menjadi remaja harapan keluarga yang dikenal mahir membuat alat-alat dapur. Belakangan, hal itu pulalah yang membuat dirinya mendapat julukan Sobluk oleh masyarakat sekitar. Julukan yang disematkan oleh masyarakat ini, terutama bagi kalangan berpendidikan, tentunya tidak bisa dipahami sebagai sebuah sebutan usil dan mengucilkan. Lebih jauh hal ini merupakan sebuah pengakuan dari masyarakat atas pencapaian prestasi yang tidak semua orang bisa menggapainya. Terbukti hal tersebut bertahan hingga hari ini.

Kesibukan dan prestasi gemilang yang diraih di dunia usaha ini tidak lantas membuat Imam Sobluk lupa terhadap pendidikannya di bangku sekolah. Walaupun setiap hari dirinya harus membantu usaha keluarga, namun hal itu dilakukannya setelah belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah. “Orang tua saya tidak membolehkan kalau saya masih belum belajar. Bagi mereka, sekolah saya lebih penting,” kenang Imam.

Imam menambahkan, kunci dari itu semua adalah pintar membagi waktu antara belajar dan membantu kedua orang tua. Siang hari dirinya harus fokus ke sekolah dan malam hari setelah selesai belajar barulah ia membantu orang tua membentuk alumunium sesuai dengan pesanan yang ada. Kepandaian dalam mengatur waktu tersebut terbukti ampuh untuk menyeimbangkan prestasi di semua bidang. Tidak hanya piawai dalam membuat alumunium menjadi bernilai ekonomis, ia mampu melakukan semuanya tanpa harus menanggalkan proses belajar di sekolah. Hal itu terbukti dengan kesuksesannya menyelesaikan proses pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. “Bahkan sejak tahun 2004 saya sudah aktif mengajar di MA Lughatul Islamiyah Batang-Batang,” jelas Imam.

Menikah dan Memulai Usaha Sendiri

Garis hidup dan jodoh memang tidak ada yang tahu. Begitu juga dengan Imam Wahyudi yang tidak pernah berpikir bahwa pada akhirnya ia akan hidup jauh dari keluarga dan lingkungan yang telah membesarkannya. Siapa yang menyangka bahwa pilihannya untuk melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi yang ada di Kabupaten Sumenep membawanya bertemu dengan seorang perempuan yang berhasil merebut hatinya untuk dan menjalin hubungan rumah tangga. Perempuan tersebut bernama Anik Sulvianingsih, seorang dara cantik dari Desa Batudinding yang sekarang menjadi tempat tinggal Imam. Pernikahan yang terjalin pada tahun 2006 silam, yakni satu tahun sebelum Imam menyandang gelar sarjana.

Kehidupan dalam membina keluarga tentu sangat berbeda dengan kehidupan di kala sedang sendiri. Hal ini jugalah yang dirasakan Imam pada masa awal membina rumah tangga. Perasaan bingung hinggap dengan serta merta ketika dihadapkan dengan kebutuhan keluarga yang tidak ada habisnya. Sementara untuk menumpang hidup kepada mertua dirinya disergap rasa malu sebagai jiwa muda. Hingga akhirnya, setelah bermusyawarah dengan sang istri, Imam memutuskan untuk merintis usaha yang ia geluti di kampung halaman dengan harapan dapat menjadi lumbung pemasukan bagi ekonomi keluarga. Ia lantas mengkonsultasikan niatnya tersebut kepada orang tua di kampung halaman untuk meminta masukan dan bantuan.

Sejak saat itulah Imam mulai merintis usaha keluarga. Dengan dibantu oleh sang istri, Imam mengerjakan usahanya memproduksi peralatan alat dapur pada waktu malam. Hal itu karena pada waktu siang hari, dirinya harus pergi ke Batang-Batang untuk menyebarkan ilmu yang ia miliki kepada generasi penerus bangsa. Sebagai permulaan dalam merintis usaha, awalnya Imam meminta bantuan kepada sang bapak untuk semua keperluan yang dibutuhkan, termasuk dalam hal modal usaha, alat, dan pemasaran produk. “Untuk pertama, saya meminta bantuan kepada orang tua karena beliau pasti lebih mempunyai akses. Bisa dibilang saya ngampong dari ketenaran beliau. Namun saya juga berpikir bahwa saya harus bisa mandiri dalam mengembangkan usaha ini,” kenang ayah dua anak ini.

Di tengah terpaan kekurangan modal yang melanda serta keinginan untuk mandiri itulah, Imam memperoleh jalan dan bermitra dengan Bank BPRS. Hal itu berawal dari informasi yang ia peroleh dari salah seorang kerabat yang menyarankan dirinya untuk mengajukan permohonan penguatan modal ke Bank BPRS. “Itu terjadi pada tahun 2013 kemarin. Kebetulan ada sepupu istri yang menjadi satpam di Bank BPRS menyarankan untuk mengajukan proposal. Alhamdulillah proposal saya diterima dan syaratnya juga mudah,” cerita Imam.

Jenis alat dapur yang diproduksi Imam tidak jauh berbeda dengan jenis yang ia tekuni di kampung halaman dulu. Cuma saat ini dirinya lebih fokus terhadap jenis Cetteng dan Lengser. Pemilihan ini bukan tanpa alasan, hal itu didasarkan karena jenis Sobluk sudah ada yang menekuni di wilayah kota Sumenep. Dengan pertimbangan persaingan dan pangsa pasar domestik inilah yang mendasari pemilihan jenis yang diproduksi. “Ada salah satu teman saya di kampung yang menikah di wilayah kota Sumenep. Dia juga mengembangkan usaha yang sama, namun hanya fokus membuat Sobluk,” terang pria yang menamatkan kuliah tahun 2007 silam.

Dalam segi produksi, Imam mengaku dalam satu hari dirinya dapat menghabiskan 5-6 lembar aluminium ukuran 2x1. Dalam setiap lembarnya dapat menghasilkan Cetteng dan Lengser dalam jumlah yang beragam, tergantung besar ukuran yang dipatok. Untuk Cetteng ukuran kecil misalnya, bisa memproduksi hingga 16 buah per lembarnya. Sementara harga untuk konsumen, Imam mendasarkan pada ketebalan alumunium yang digunakan. Untuk Centeng ukurang kecil dengan tebal 0,4 inci misalnya, dibandrol denga Rp 10ribu. “Semakin tebal bahan yang digunakan, maka semakin besar juga modal yang dikeluarkan,” jelas ayah Safira Shivty Lifia dan Ahmad Maulana Ziyan Iluzzayyan ini.

Untuk pemasaran produksi, Imam mengaku mengirimkannya ke seorang agen yang ada di Pasar Anom dan Pasar Laju, serta ke sebuah toko di wilayah Asta Tinggi yang baru-baru ini menjadi pelanggannya. Dari pengiriman tersebut, Imam mengaku mendapatkan omset sebesar Rp 1, 3 juta dalam satu bulan. “Alhamdulillah, Mas, cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar Imam bersyukur.

Read 517 times Last modified on Monday, 15 August 2016 11:30

Twitter

Hubungi Kami

BBS mobile

Untuk Kemudahan nasabah dalam menggunakan layanan kami, kini BPRS Bhakti Sumekar hadir di smartphone android, unduh gratis di Google Playstore

BPRS Bhakti Sumekar