14 Aug

MERAJUT UKIRAN KAYU

By  Mata Madura
(0 votes)

Program Penguatan Modal UMKM yang menjadi andalan Bank BPRS Bhakti Sumekar untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat memang jitu. Jika dikaitkan dengan sebuah pribahasa, konsep ‘sapu bersih’ adalah padanan bahasa yang pas. Hal tersebut tampak dari banyaknya pekerja UMKM Sumenep yang menjadi penikmat manfaat dari program pro rakyat tanpa membedakan jenis usaha yang dikembangkan.

Sepintas, hal itu memang wajar mengingat Bank BPRS Bhakti Sumekar adalah salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang keberadaannya terus memberikan andil dalam mensejahterakan rakyat. Hal ini menjadi bukti kesungguhan Bank BPRS dalam mewujudkan peran dan fungsinya di tengah-tengah masyarakat. Banyak UMKM yang tersebar di seluruh kabupaten tak luput dari perhatian Bank yang menggunakan jargon “Mitra Bermuamalah” ini, termasuk Sentra Industri Kerajinan Ukir Kayu Salama Meuble milik Salamet Badri di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Madura.

Kisah Usaha

Desa Karduluk memang dikenal dengan nama Desa Ukir. Sebutan itu muncul karena keahlian seni ukir menjadi warisan turun temurun dari nenek moyang. Terlepas dari mitos karena jatuhnya puing perahu berukir milik Ronggolawe ketika kalah berperang melawan Bindara Saod dalam cerita rakyat Sumenep, akan tetapi kualitas ukiran yang dihasilkan dari desa paling timur Kecamatan Pragaan tersebut diakui bagus oleh masyarakat. Baik dari kombinasi warna, pola yang simetris, serta kerapian ukiran terasa menyimpan kekuatan magic yang menahan mata untuk berpaling. Prestise ini bertahan sejak nenek moyang dan tetap terpatri hingga kini. Maka tidak heran jika banyak masyarakat Karduluk berprofesi sebagai tukang meuble untuk mempertahankan warisan dari orang tua.

Sebagaimana rumah tukang meuble, kediaman Salamet penuh dengan alat-alat seperti pemotong kayu, alat ukir, dan tentu saja kayu sebagai bahan pokok dari usaha ini. Di bengkel pembuatan meuble yang berada sebelah timur rumah Salamet terlihat beberapa orang pekerja sedang mengerjakan pesanan. Kata Salamet, hari itu, Sabtu (08/08), para karyawannya banyak yang meminta izin untuk istirahat karena baru saja selesai mengerjakan pesanan kursi sebanyak 150 buah. “Mungkin capek karena baru menyelesaikan pesanan yang banyak,” tutur Salamet.

Salamet mengaku menggeluti usaha meuble secara serius sejak umur 22 tahun. Sebelumnya, ia hanya membantu ayahnya sambil belajar bagaimana cara membuat meuble yang benar. Berbagai trik dan teori telah ia pelajari dari sang ayah yang juga seorang tukang meuble cukup terkenal. Setelah merasa cukup dengan segala ilmu yang didapat, pada tahun 1991 Salamet membuat satu keputusan penting dalam hidupnya, yakni menjalankan usaha meuble sendiri dan mengembangkan jenis berbeda dengan sang ayah atau kebanyakan masyarakat di desanya.

Perbedaan tersebut terletak pada usaha Salamet yang fokus terhadap meuble jenis Antik, yakni meuble kayu berukir khas Sumenep yang jarang dikembangkan masyarakat Karduluk. Waktu itu, lanjut Salamet, masyarakat lebih banyak mengembangkan usaha meublenya dengan corak furniture polos biasa, bahkan sang ayah juga tidak mengerjakan meuble jenis antik tersebut. “Bapak saya sendiri tidak bergerak dijenis Antik ini, makanya saya bilang saya ini nyalendha (lain dari yang lain, red) dari kebanyakan orang Karduluk,” ucap Salamet.

Meski ilmu tentang meuble jenis Antik, diakui Salamet, masih sangat sedikit. Namun meuble jenis ini bukanlah hal yang baru bagi keluarga Salamet, karena dulu kakek buyut Salamet yang dikenal dengan nama Ratin merupakan seorang ahli ukir kayu ternama pada masanya. Hingga tidak heran jika jiwa seni mengalir kental dalam darahnya.

Salamet bercerita, pada masa awal merintis karir di bidang meuble, usaha yang digelutinya tersebut berjalan tertatih-tatih. Hanya bergantung kepada pesanan yang datang serta tidak memiliki pekerja tetap. Ketika ada pesanan, pihaknya akan mencari orang yang bisa membantunya menyelesaikan barang pesanan tepat waktu. Bahkan sesekali membantu pekerjaan sang bapak ketika pesanan sedang kosong.

Seiring berjalannya waktu, dengan usaha keras dan semangat yang pantang menyerah, meuble ukir Salamet mulai dikenal oleh banyak orang, tak terkecuali di kalangan dinas yang membidangi keberlangsungan usaha kecil masyarakat. Hal tersebut membuat namanya seringkali menjadi pilihan ketika ada pelatihan atau Diklat baik di tingkat kabupaten ataupun provinsi. Salamet mengaku, sudah banyak pelatihan yang ia ikuti di berbagai tempat, mulai dari Jepara, Bojonegoro, Tuban, hingga Diklat Ukiran di Sulawesi Selatan yang diadakan Dinas Koperasi Jawa Timur, tahun 2002 silam. “Pelatihan itu sangat membantu saya dalam mengembangakan usaha ini,” tutur Salamet.

Setelah mendapat tambahan pengetahuan dari diklat-diklat tersebut, usaha yang dikembangkan Salamet mulai merangsak maju. Melalui dinas-dinas terkait namanya mulai terkenal hingga ke pasar regional. Bahkan hasil karyanya dalam seni ukir tersebut sering ikut dalam pameran-pameran di Indonesia, seperti Jatim Expo di Surabaya atau Pekan Raya Jakarta di Ibu Kota dan mendapat banyak pesanan dari para pengunjung.

Penguatan Modal dari BPRS Bhakti Sumekar

Banyaknya pesanan yang datang untuk memborong ukiran dari masyarakat luas ternyata tidak lantas membuat Salamet tenang. Hal tersebut karena modal yang dimilikinya sangatlah pas-pasan. Jangankan untuk menggaji pegawai, untuk membeli kayu saja ia harus cari hutangan kemana-mana. Belum lagi harus keliling ke berbagai daerah di Sumenep untuk menemukan kayu yang bagus. Maka tak heran ketika mengetahui Bank BPRS Bhakti Sumekar memberikan penguatan modal bagi usaha kecil masyarakat dengan proses cepat dan terjangkau, Salamet mengaku senang.

“Selain karena prosesnya cepat dan terjangkau, Bank BPRS adalah bank milik kita sendiri, milik masyarakat Sumenep,” kenang pria kelahiran Sumenep, 02 Februari 1969 itu. Ia langsung menjadi nasabah pada tahun 2005 dan tetap menjalin kerja sama hingga kini.

Setelah menjalin kerja sama dengan BUMD Sumenep ini, Salamet mengaku tidak pusing lagi ketika ada pesanan dari luar kota dan membutuhkan modal yang besar. Karena dirinya tinggal mengajukan permohonan penguatan modal ke Bank BPRS dan semua masalah tentang modal menjadi hilang bagai diterbangkan angin. Saat ini pesanan datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti Kediri, Surabaya, Situbondo, dan Jakarta. Pemesannya pun dari berbagai kalangan, baik pegawai pemerintah untuk kebutuhan kantor maupun masyarakat sipil untuk rumah masing-masing. Salamet menerangkan, pelanggannya memesan melalui via telepon di nomer 081913677557 yang selalu tertera di setiap brosur yang ia sebarkan. “Ada yang cuma pesan souvenier seperti hiasan dinding dan wadah tisu. Ada juga yang pesan kursi dan pintu dengan ukiran khas keraton,” jelas suami Ruwaidah Ari.

Harga yang dipatok Salamet pun sangat beragam, untuk souvenier mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 450 ribu. Sedangkan untuk kursi, pintu, lemari, dan lainnya, berkisar antara Rp 2 juta hingga Rp 4,5 juta, tergantung tingkat kesulitan dari pesanan tersebut. Sekarang Salamet telah mempekerjakan 18 orang untuk membantunya memenuhi target pesanan yang selalu datang. Salamet mengaku, dalam satu bulan omset yang dihasilkan dari usaha tersebut mencapai maksimal Rp 25 – 45 juta, paling minim Rp 15 juta. “Alhamdulillah, sekarang lancar. Bahkan untuk urusan kayu saya tidak usah keliling lagi, tapi langsung didatangi dari berbagai Kecamatan seperti Pasongsongan, Dasuk, Batu Putih, Rubaru, dan Ambunten,” terang ayah Khusnul Khatimah dan Izbat Dani Azizi.

Berkat Bank BPRS, Mimpi Naik Haji Jadi Nyata

Melalui bantuan Penguatan Modal yang diberikan Bank BPRS, usaha meuble Salamet berkembang dengan pesat. Kekurangan modal yang menjadi penghambat sebelumnya tak lagi menjadi momok yang ditakuti. Hal ini tentu berimbas terhadap penghasilan yang berhasil dikumpulkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Bahkan dari usaha yang digelutinya ini, Salamet dapat menabung untuk mewujudkan mimpinya yang lain yakni melaksanakan ibadah haji ke kota Mekkah Al-Mukarramah.

“InsyaAllah tahun ini saya akan menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Alhamdulillah, itu adalah mimpi terbesar saya, jadi mohon doanya agar semuanya lancar,” kata Salamet, terharu.

Salamet sangat bersyukur berkat perantara bantuan modal yang diberikan Bank BPRS, dua mimpinya untuk menjadi pengrajin kayu ukir terkenal dan menunaikan ibadah haji sudah di depan mata. Strata ekonomi yang awalnya rendah kini sudah meningkat berkat keberanian untuk mengembankan potensi meski tidak ada modal. Sebuah keberanian yang bukan tanpa alasan, tapi karena Sumenep memiliki Bank BPRS yang peduli terhadap masyarakat kecil, serta dapat menjadi mitra yang baik untuk mewujudkan berbagai mimpi yang terpendam.

Read 788 times Last modified on Monday, 15 August 2016 16:58

Twitter

Hubungi Kami

BBS mobile

Untuk Kemudahan nasabah dalam menggunakan layanan kami, kini BPRS Bhakti Sumekar hadir di smartphone android, unduh gratis di Google Playstore

BPRS Bhakti Sumekar