14 Aug

PERKUAT EKONOMI PETANI CEMARA UDANG

By  Mata Madura
(0 votes)

Seperti dilansir Mata Sumenep pada dua edisi sebelumnya, Bank BPRS Bhakti Sumekar begitu banyak memberikan manfaat kepada masyarakat, utamanya bagi masyarakat Sumenep yang membutuhkan modal atau pinjaman. Bank milik Pemerintah Kabupaten Sumenep ini benar-benar menjadi penggerak ribuan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang tersebar di seluruh pelosok kabupaten. Salah satu bukti tersebut tampak lagi misalnya pada usaha Bonsai Cemara Udang milik Juhari, warga Desa Dapenda, Kecamatan Batang-Batang.

Dengan program-program cemerlangnya, Bank BPRS Bhakti Sumekar telah bermetamorfosa menjadi tumpuan masyarakat atau UMKM yang membutuhkan pendampingan untuk menjalankan usahanya menjadi lebih berkembang. Sebagaimana pada usaha Bonsai Cemara Udang Juhari yang semakin pesat dan besar, hingga merambah pasar ke Kota Surabaya, Malang dan Jakarta. BPRS dengan program modalnya selalu berusaha menyulap pengusaha kecil-kecilan menjadi penyuplai besar kebutuhan flora khas Pantai Lombang tersebut hingga ke kota-kota besar Indonesia.

Memberikan suntikan modal kepada pengusaha Bonsai Cemara Udang memang merupakan langkah konkrit yang tepat oleh BPRS. Terlebih karena cemara udang merupakan icon Pantai Lombang yang menjadi salah satu aset besar Kabupaten Sumenep. Logikanya, dengan adanya penyebaran Bonsai Cemara Udang ke berbagai wilayah di Indonesia, maka nama Sumenep melalui icon Pantai Lombang itu dapat dipastikan semakin bersinar. Hal ini tentu sebab dengan melihat Bonsai Cemara Udang banyak orang yang akan berpikir betapa indah Pantai Lombang dengan rimbun cemaranya yang tentu pula akan berujung pada betapa indah Sumenep yang memiliki aset cemara udang tersebut.

Fakta demikian merupakan penjelasan akan andil kuat BPRS dalam perekonomian yang bersifat kreatif ini. Tidak hanya mensejahterahkan kehidupan nasabah semata, kontribusi sosial kepada masyarakat Sumenep juga menjadi perhatian besar BPRS sebagai bukti bhakti terhadap Sumenep Sumekar.

Awal Mula Usaha

Usaha Bonsai Cemara Udang sudah digeluti Juhari sejak tahun 1992. Bahkan usahanya ini terbilang cukup awal dan menjadi pendobrak usaha Bonsai Cemara Udang yang sukses dan menjadi contoh bagi calon pengusaha lain yang sudah tak terbilang jumlahnya hari ini. “Saya memulai usaha ini sudah mulai tahun 1992. Sebebelum saya berkeluarga saya sudah senang dengan Bonsai Cemara Udang. Jadi kesenangan saya boleh dibilang ikut menjadi semangat untuk akhirnya menjadikan Cemara sebagai sebuah usaha,” tutur Juhari, saat ditemui Mata Madura di kediamannya, akhir pekan Juli lalu.

Diungkapkan Juhari, saat itu ia hanya sebatas pengusaha biasa yang menjaual Bonsai Cemara Udang di pasar domestik dan lambat laun mulai melebarkan sayap hingga sedikit merambah pasar regional. Dengan modal seadanya seorang Juhari mencoba menjual pohon rupiah tersebut ke pengusaha Bonsai di Kota Pahlawan Surabaya. Dan seterusnya, lantaran ia jujur dan tampak gigih, kepercayaan besar pun datang kepadanya dari seorang pengusaha China disana. “Modalnya hanya nekat dan percaya,” kata Juhari.

Pengusaha tersebut, lanjut Juhari, memberikan uang kepadanya sebagai modal membeli Bonsai Cemara Udang untuk selanjutnya dikirim ke si Pengusaha. Perjalanan kerjasama pun, kata Juhari, berjalan lancar dan cukup lama, hingga Juhari memiliki cukup modal sendiri dan tetap berdistribusi ke Surabaya. Dan tak lantas puas, setelah kesuksesannya dengan satu rekan usaha, Juhari juga mencoba merambah ke Kota Malang, menjajaki Kota Dingin itu dengan mengenalkan Bonsai Cemara Udang.

Sepanjang itu, perjalanan usahanya terbilang sukses di kedua kota besar Jawa Timur tersebut, sampai suatu waktu jalinan kerjasama dengan pengusaha di Kota Pahlawan mulai tidak berjalan dengan lancar dan akhirnya kandas di tengah jalan. “Saya berhenti ngirim ke Surabaya karena Bos disana berhenti. Entah kenapa. Mungkin beralih kepada usaha lain atau berhenti karena pasar bonsai disana tidak lagi mendatangkan banyak keuntungan, “ akunya kepada Mata Sumenep.

Namun bagi Juhari, kehilangan satu rekanan sudah biasa dalam jalin kerjasama dan bisnis. Sebab dinamika seperti itu merupakan titik awal dari perkembangan sebuah usaha. Disisi lain, itu juga merupakan cobaan bisnis untuk menuju kesuksesan yang diimpikan. Kendati demikian, pepatah “hilang satu tumbuh seribu” dapat dikata untung terjadi pada Juhari. Entah karena hilangnya satu ladang penghasilan di Surabaya, Juhari malah mendapatkan 2 pengusaha baru yang bisa membeli bonsainya di Jakarta. Ia berhasil menembus pasar nasional di ibu kota.

Meski tidak jua berjalan sekali mulus, Juhari mengatakan dengan rekan di Jakarta-lah kini usahanya tetap berjalan lancar. Kata dia, salah satu pengusaha awalnya memang masih harus dibujuk untuk alih usaha dari Tanaman Hias sekaligus mengajari bagaimana berbisnis bonsai. Dengan telaten Juhari masih mementori si pengusaha dengan berbagai trik usaha yang diketahuinya selama ia menjalani kerjasama dalam bisnis sebelumnya. “Setelah Bos yang satu itu bisa, malah saya kalah gesit padanya. Dia sekarang sudah lebih sukses dari saya,” cerita Juhari.

Selain Bank BPRS Bhakti Sumekar di bidang permodalan, keduanya sampai saat ini masih menjadi mitra kerja yang baik bagi Juhari. Dengan itu pula, akhirnya Juhari lancar mengirim 80-150 bonsai dalam sekali dua bulan. “Kadang dua kali dalam tiga bulan. Tergantung permitaan pasar,” katanya.

Peran BPRS di Tengah Rindang Cemara

Peran Bank BPRS Bhakti Sumekar bagi Usaha Bonsai milik Juhari memang sangat signifikan, sebab permodalan yang dimilikinya terbilang minim untuk usaha Bonsai sekecil apapun. Maka dari itu, Juhari mencoba menjalin kerjasama dengan BPRS untuk mendapat program Pinjam Modal demi memperlancar usahanya.

Juhari mengatakan, pada awalnya ia hanya mendapat pinjaman modal sebesar Rp 5 juta. Namun, sebab ia berhasil meyakinkan BPRS dengan bukti kerjasama yang baik, dari tahun ke tahun nominalnya pun semakin meningkat. Ia menambahkan, dengan kejujuranlah Juhari-BPRS bermitra sepanjang sekitar tahun 2008 hingga sekarang. Karena itu, tak heran bila kepada Mata Sumenep ia mengaku sudah mendapat penguatan modal sebanyak enam kali. “Pertama satu tahun-satu tahun, habis itu dua tahun-dua tahun. Pokoknya terakhir saya mendapat pinjaman modal Rp 60 juta,” katanya.

Tahun ini, sebenarnya Juhari sudah tidak ingin meminjam modal kembali kepada BPRS. Namun mengingat kebaikan pihak BPRS selama ia lemah secara modal, ia berubah pikiran untuk tetap melanjutkan kerjasama tersebut. Selain itu, BPRS memang bukan hanya membesarkan usaha Juhari secara pribadi, tapi membuat ia menjadi tumpuan para petani cemara udang di daerahnya. “Selain hasil dari tani saya sendiri, saya juga membeli ke teman-teman yang punya bonsai biar mereka juga mendapat penghasilan dan mendapat cipratan dari usaha saya,” tuturnya bangga, dapat berbagi jalan usaha.

Secara tidak langsung BPRS dalam hal ini juga mempunyai andil yang signifikan dalam memperkuat ekonomi masyarakat petani bonsai di daerah Juhari. Dengan jalin kerjasama yang dilakukan banyak petani setempat bersama Juhari, otomatis BPRS dapat dikatakan banyak menguntungkan bagi masyarakat. Meski tak dapat disaksikan dengan kasat mata, modal besar dari BPRS untuk memborong bonsai para petani disana menjadi jalan mulus agar hasil tani dengan mudah dan cepat kembali modal (uang).

Kini, sejak bermitra dengan BPRS, pendapatan Juhari semakin meningkat. Kendati omzet setiap kirim sebelumnya memang besar. Namun, lantaran back up modal dari BPRS, ia mengaku omzet bersihnya kian naik. “Tidak saya sebutkan berapa sebelumnya, karena juga kondisional (terkait permintaan). Tapi alhamdulillah lebih meningkat daripada saat modal masih minim,” tutur Juhari. Saat ditanya omzet perbulan, kepada Mata Sumenep, Juhari memilih mengatakan omzet perdistribusinya. “Sekali kirim, bisa mendapat laba kotor Rp 15-25 juta atau laba bersih sekitar Rp 8 -15 juta,” tandasnya.

Read 824 times Last modified on Monday, 15 August 2016 18:31

Twitter

Hubungi Kami

BBS mobile

Untuk Kemudahan nasabah dalam menggunakan layanan kami, kini BPRS Bhakti Sumekar hadir di smartphone android, unduh gratis di Google Playstore

BPRS Bhakti Sumekar