14 Aug

STRATEGI PENGUATAN EKONOMI

By  Mata Madura
(0 votes)

Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM ) menjadi penggerak utama dalam usaha memajukan ekonomi masyarakat dan menekan jumlah pengangguran. Sebagai pengentas problem ekonomi dan penekan pengangguran, tersedianya lapangan kerja lewat pemberdayaan UMKM, sebagai solusi jitu.

Pemikiran di atas menjadi perhatian Bank BPRS Bhakti Sumekar Sumenep yang mengusung misi terwujudnya masyarakat yang makin sejahtera dan dilandasi nilai-nilai agama serta budaya. Bank BPRS Bhakti Sumekar tentu bersikap tanggap melihat geliat ekonomi mikro dan kreativitas ekonomis warga. Seperti memberikan suntikan modal terhadap industri dan kerajinan masyarakat yang mendapat kesulitan di bidang permodalan.

Perhatian Bank BPRS Bhakti Sumekar terhadap UMKM bukan hanya sekedar isapan jempol belaka. Terbukti telah banyak usaha-usaha kecil masyarakat yang sudah mendapatkan bantuan dan menjadi binaan yang terus dikontrol jalan usahanya. Disini, Mata Sumenep mencoba menelisik usaha masyarakat yang sudah mendapatkan bantuan dari Bank BPRS Bhakti Sumekar. Salah satunya di bidang batik tulis pada Sentra Batik Tulis Melati.

Batik Tulis Melati

Usaha Batik Tulis ini bertempat di Desa Pakandangan Barat, Kecamatan Bluto. Lokasinya sebelah barat Pom Bensin Pakandangan di selatan jalan raya. Tidak sulit untuk menemukan home industry ini karena di pinggir jalan ada papan penunjuk yang cukup besar, hasil bantuan dari Bank BPRS Bhakti Sumekar. Jika masuk ke selatan sekitar 30 meter. Setiap orang akan disambut pemandangan sebuah rumah yang penuh dengan batik tulis karya warga Sumenep di bawah pimpinan H Zaini, seorang yang ahli membatik dan mewarnai. Termasuk juga warna alami yang memanfaatkan daun-daunan, akar, dan kulit pohon.

H Zaini bercerita, usaha yang digelutinya ini merupakan warisan dari kakek dan ayahnya yang memang sudah lama menjadi pengrajin batik. Bisa dibilang, darah batik sudah mendarah daging dalam pribadinya.

“Saya meneruskan dari orang tua tahun 1977. Untuk pastinya kapan usaha ini berdiri, saya kurang tahu,” ungkapnya mengawali cerita.

H Zaini mengaku keahlian membatik yang dimilikinya adalah hasil dari belajar langsung kepada sang bapak semenjak masih kecil. Namun, pada tahun 1979-1980, ia juga mengikuti pelatihan membatik yang diselenggarakan Disperindag Sumenep, semakin memantapkan pengetahuannya dalam membatik.

Termasuk menjadi delegasi dalam Pelatihan Pewarnaan yang bertempat di Balai Besar Yogyakarta pada tahun 1986. Sejak saat itu, keahlian membatik H Zaini semakin terasah dan produk batik yang dihasilkannya pun mulai mendapat tempat di hati masyarakat. Karena itu, tak heran jika pada tahun 1991 ia pernah mendapat orderan dari PT Garam sebanyak 1.300 potong batik.

“Waktu itu, saya senang karena mendapat orderan besar. Cuma saya juga minta sedikit bayaran di muka untuk pengadaan bahan. Maklum kurang modal,” kenangnya saat ditemui Mata Sumenep.

Memang, problem modal menjadi hambatan dalam laju produksi Batik Tulis Melati. Seandainya tidak ada suntikan modal, H Zaini memastikan usahanya bisa jalan di tempat atau gulung tikar. Karena itu, H Zaini sangat bersyukur dan gembira dengan adanya program dari Bank BPRS Bhakti Sumekar yang sangat memerhatikan usaha-usaha rumahan, seperti Batik Tulis Melati, milik H Zaini.

“Saya merasa sangat terbantu, mas. Dengan bantuan pengadaan modal yang diberikan oleh Bank BPRS dapat memacu produktivitas kami. Jadi kalau misalnya ada pesanan dalam jumlah banyak baik dari dalam atau dari luar kota, kami tidak merasa kebingungan lagi,” ujar Haji Zaini memberikan testimoni.

Setelah menjadi partner BPRS Bhakti Sumekar, usaha H Zaini kian berkembang. Saat ini, H Zaini membawahi 67 karyawan yang tersebar di sejumlah desa.

“Setiap tahun kami mengadakan pelatihan untuk menambah karyawan baru. Alhamdulillah dapat menyediakan lapangan pekerjaan kepada orang lain,” akunya. Popularitas Batik Tulis Melati mendapat tempat di Jawa Timur maupun di kota lainnya.

Model promosinya memanfaatkan momen pameran di Jakarta maupun di kota-kota Jawa Timur. Seperti pameran di Banyuwangi beberapa waktu lalu, H Zaini mendapat banyak order dari warga setempat. Soal harga batik, Haji Zaini mematok harga terendah Rp 75 ribu-Rp 100 ribu untuk batik kualitas rendah. Harga Rp 150 ribu–Rp 300 untuk kualitas sedang. Harga Rp 350 ribu–Rp 500 ribu untuk kualitas baik. Sedangkan harga tertinggi Rp 1,2 juta dengan berbagai pilihan warna alam atau kimia.

Penguatan Ekonomi Masyarakat

Dengan demikian, program penguatan modal BPRS dapat dinilai sebagai sebuah strategi. Di tengah gempuran dahsyat arus ekonomi global dan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), program bantuan modal usaha bagi kantong-kantong usaha kecil memang memberikan prospek tersendiri bagi rakyat kecil dengan ekonomi menengah ke bawah. Karena itu, misi agung BPRS terlebih sebagai BUMD tidak lagi perlu disangsikan masyarakat Sumenep.

Meningkatnya modal usaha atas bantuan BPRS kepada UMKM sangat jelas memiliki dampak massif terhadap meluasnya lapangan kerja dan naiknya pendapatan para pelaku. Tak hanya itu, kepada UMKM sendiri sebagai suatu kelompok usaha, menguatnya modal memberikan nilai kredibel yang mampu menarik pasar ke dalam merk dan produk mereka. Semua itu tak lain demi mewujudkan masyarakat Sumenep sejahtera dan berbudaya.

Selama lima tahun terakhir, penguatan ekonomi khususnya kepada masyarakat kecil memang menjadi prioritas pemerintahan Bupati Sumenep KH A. Busyro Karim. Hal tersebut dapat terlihat pada optimalisasi peran BPRS sebagai salah satu BUMD yang bergerak di sektor finansial.

Keberadaan BPRS dirasa mampu mendongkrak persoalan ekonomi masyarakat. Melalui program pembiayaan modal kerja ini diharap kelompok-kelompok UMKM dapat meningkatkan strata ekonomi mereka menjadi lebih sejahtera.

Pengembangan dan pembinaan UMKM yang menjadi visi-misi Bupati Busyro ini sangat dirasakan oleh H Zaini selaku pimpinan Sentra Batik Tulis Melati, Desa Pakandangan Barat.

“Sejak kepemimpinan Kiai Busyro, kami merasakan dukungan penuh dari pemerintah. Itu terbukti dengan adanya bantuan modal dari BPRS yang memberikan kemudahan bagi kami dalam mengembangkan usaha,” aku H Zaini.

Apa yang dirasakan Sentra Batik Tulis Melati tentu bukan satu-satunya imbas manfaat dari program pemberdayaan ekonomi kecil. Akan tetapi juga dirasakan oleh kelompok-kelompok lain yang bergerak di bidang kreativitas. Seperti fenomena bola salju.

Read 584 times Last modified on Monday, 15 August 2016 18:32

Twitter

Hubungi Kami

BBS mobile

Untuk Kemudahan nasabah dalam menggunakan layanan kami, kini BPRS Bhakti Sumekar hadir di smartphone android, unduh gratis di Google Playstore

BPRS Bhakti Sumekar